17 Jul 2021

Pengembang Masih Menahan Peluncuran Proyek Apartemen Baru (Kompas)

Ilustrasi apartemen.(PIXABAY/paulbr75)

 

Pengembang properti masih melakukan aksi menahan peluncuran proyek kondominium atau apartemen strata baru, meskipun program vaksinasi massal gencar dilakukan. Hal ini disebabkan, masih banyaknya unit apartemen eksisting dan masih dalam konstruksi yang belum terjual.

Tentu saja aksi tahan ini tak berdampak pada jumlah pasokan kumulatif yang bertahan di angka 256.394 unit hingga akhir Semester I-2021, tidak berubah sejak tahun 2020. Associate Director Research and Consultancy Department Leads Property Indonesia Martin Samuel Hutapea memaparkan, Jakarta Selatan dan Barat masih memimpin sebagai pemasok terbesar, masing-masing sekitar 20 persen. "Posisi kedua kawasan tersebut diikuti oleh Jakarta Pusat sebesar 18 persen," ujar Martin dalam laporan yang dikutip Kompas.com, Sabtu (17/07/2021).

Sementara, selama Kuartal II-2021, permintaan kumulatif menunjukkan perbaikan tipis 0,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya sehingga menjadi 213.361 unit. Penawaran-penawaran yang menarik dari pengembang baik berupa diskon harga, uang muka atau down payment (DP) yang cukup fleksibel, cicilan dengan tenor panjang, ikut memengaruhi tumbuhnya permintaan.

"Selain itu, tentu saja insentif pemerintah berupa bebas PPN untuk produk siap huni seharga di bawah Rp 2 miliar dan juga tingkat bunga KPA yang cukup rendah," imbuh Martin. Nihilnya peluncuran proyek baru, membuat tingkat penjualan sedikit beranjak 0,23 basis poin sejak kuartal sebelumnya ke angka 83,2 persen. Martin mengatakan, dari segmen harga, masih belum menunjukkan peningkatan sejak Kuartal I-2021.

Pengembang memilih tak menaikkan harga karena tidak ingin kehilangan pembeli. Pembeli apartemen dengan harga di bawah Rp 2 miliar, termasuk sensitif atau price sensitive. Perubahan harga yang cukup tinggi akan membuat sebuah produk tidak menarik untuk dilirik senyampang masih tertekannya daya beli masyarakat karena pandemi dan ancaman PHK serta cicilan yang macet di tengah jalan.

Hingga saat ini, Leads Property Indonesia mencatat, harga rata-rata pasar apartemen di CBD Jakarta sedikit bergerak sebesar 0,2% secara kuartalan menjadi Rp 48 juta per meter persegi. Sementara di lokasi-lokasi primer (di luar CBD), sedikit bertumbuh yaitu sebesar 0,5 persen secara kuartalan sehingga mencapai angka Rp 34,4 juta per meter persegi.

Dengan meningkatnya kasus pandemi di Jakarta, membuat sektor ini menjadi alternatif untuk isolasi mandiri keluarga pemilik unit. Namun, preferensi pembeli akan hunian sementara waktu berpindah ke rumah tapak karena dianggap lebih aman dari penyebaran virus. Sementara bagi pengembang, masih akan bergantung pada insentif pemerintah berupa bebas PPN untuk mendorong penjualan produk, diikuti oleh penawaran-penawaran yang menarik seperti disebutkan sebelumnya. "Hal ini berpotensi meningkatkan tingkat penjualan ke kisaran 84-85 persen pada akhir 2021," tutup Martin.

 

Kompas.com

Back to News